Minggu, 04 November 2018

Teori Efek Media Massa Terhadap Individu

Teori Efek Media Massa Terhadap Individu

Walau masih sering terjadi perdebatan tentang besarnya pengaruh media massa pada masyarakat, namun pada umumnya mengakui adanya efek tersebut.
  • Mc Luhan
  • Wilbur Schramm
  • Elihu Kazt
  • Lazarfield
  • Mc Quail
Pengaruh Personal, Penyebaran, dan efek-efek komunikasi massa terhadap orang perorangan. Stimulus Respon:
S -> O -> R
Asumsi:
  • Pesan disiapkan dan didistribusikan dengan cara-cara sistematis dan dalam skala yang besar. Bersama dengan itu, pesan tersebut ‘dibuat siap tersedia’ untuk dikonsumsi oleh banyak individu-individu, tidak diarahkan untuk orang tertentu saja.
  • Teknologi reproduksi dan distribusi netral diharapkan memaksimal penerimaan (reception) dan respon.
  • Sangat sedikit atau tidak ada pertimbangan tentang pengaruh struktur sosial atau kelompok antara pelaksana kampanye media dengan orang perorangan terjadi kontak-kontak langsung.
  • Semua komunikan media dinilai ‘sama derajat’ kecuali beberapa pihak tertentu (pemilih dalam pemilu, calon pembeli, pendukung, dan sebagainya).
  • Kontak dengan media berkaitan, dalam beberapa hal, dengan efek. Artinya, kontak dengan media cenderung dianggap sebagai efek dalam tingkat tertentu, dan mereka yang tidak menerima isi media dianggap tidak terpengaruh.

Defleur (1970) :

Isi media massa mengandung atribut stimulus tertentu yang mengadakan interaksi secara berbeda-beda dengan berbagai karakteristik-karakteristik kepribadian anggota-anggota masyarakat.

Model yang dikembangkan oleh Defleur diberi nama Psychodinamic yang menyatakan bahwa kunci keefektifan persuasi terletak pada kemampuan merubah struktur psikologis orang perorangan. Melalui modifikasi ini akan didapat reaksi tingkahlaku seperti yang diinginkan.

Teori Comstock




Proses Dinamis Model Comstock

Seseorang menonton tv yang memperlihatkan tingkahlaku (aksi) tertentu bersama input-input arousal, perceivedd concequences dan alterlatif-alternatifnya.

Kemungkinan adanya kecenderungan untuk mempelajari dan mempraktekkan aksi yang dipertunjukkan, pertama tergantung kepada tingkat kemenonjolan atau tingkat pentingnya secara psikologis. Kemenonjolan dapat disebabkan tiga hal:
  • Ada pertunjukan
  • Tingkat nilai positif yang dikandungnya
  • Tingkat dekatnya pertunjukan dengan kenyataan
Aksi yang menonjol sangat mungkin untuk ditiru ditambah tingkat pembangkit (arousal ) yang dikandungnya. Arousal disebabkan oleh:
  • Penyajian
  • Predisposisi dalam diri pemirsa
Aksi yang kemungkinan ditiru atau diaplikasikan bila dapat diuji ditemukan dalam realitas.

Katz and Lazarsfeld’s Two Step Model (1955)

Asumsi dasar:
  1. Individu tidak terisolasi dalam kehidupan sosial, tapi merupakan anggota kelompok sosial dan berinteraksi satu dengan lainnya
  2. Respons terhadap pesan media tidak terjadi seketika, tapi melalui perantaraan dan dipengaruhi oleh hubungan-hubungan sosial tesebut
  3. Terdapat dua proses: Penerimaan dan perhatian
  4. Persetujuan atau penolakan
  5. Individu tidak bersikap sama terhadap pesan media melainkan memiliki sikap berbeda: Mereka yabg aktif menerima dan meneruskan gagasan media
  6. Hanya mengandalkan hubungan personal orang lain sebagai panutannya
  7. Individu yg berperan lebih aktif (OL) ditandai dengan penggunaan media yg lebih besar, tingkat pergaulan lebih tinggi, anggapan bahwa dirinya memiliki pengaruh, dan memiliki pesan sebagai sumber informasi dan panutan  

Kriktik atas Teori Dua Langkah

  1. Bermanfaat dan jelas, tapi sangat sederhana
  2. Teori ini tidak selalu benar; Banyak dari informasi yg kita terima berasal langsung dari media
  3. Media massa masa kini (TV) punya kredibilitas tinggi; Banyak orang menerima informasi dari TV menganggap benar begitu saja tanpa harus lagi perlu pendapat orang lain
  4. Konsep OL perlu ditelaah lebih jauh lagi;Ada pemimpin dari pemimpin, Ada pemimpin dari para pengikut, Ada pemimpin yang menerima informasi dari media, ada juga yang menerimanya dari pemimpin lain (bukan dari media), Banyak OL juga adalah orang media.
Maka lahir TEORI MULTI LANGKAH

Teori Difusi Inovasi

Latar: Terdapat tuntutan yang terus menerus dalam perubahan sosial dan teknologi guna mencari cara-cara lama
Gambaran Umum: Pada dasarnya merupakan proses komunikasi 2 tahap. Ada pemuka pendapat atau “agent of change” Artinya, teori ini menekankan peran sumber non media dalam penyevarluaasan sebuah gagasan baru

  • Difusi: Mengacu pada menyebarnya informasi baru/gagasan baru/teknologi baru (=inovasi) ke seluruh masyarakat hinggga akhirnya bisa diadopsi masyarakat
  • Inovasi: mengacu pada segala sesuatu yang “baru”, mengganti yang “lama”
  • Adopsi: mengacu pada reaksi positif terhadap inovasi dan pemanfaatannya

Difusi Inovasi (Roger-Shoemaker, 1973) 

Proses Difusi Inovasi melalui 3 tahapan aktivitas:
  • Antaseden: Situasi atau karakteristik dari orang yg terlibat yang memungkinkannnya mengalami terpaan inovasi. Misalnya: lebih mudah terjadi pada mereka yang terbuka pada perubahaan
  • Proses: Terdiri dari tahapan pengetahuan, persuasi, keputusan, dan konfirmasi. Dari sini, nilai inovatif yang dirasa memegang peranan penting, demikian pula dengan norma-norma dan sistem sosialnya. Misalnya: terkadang peerlatan yang bermanfaat ditolak karena bertentangan dengan norma kultural.
  • Konsewensi: Merujuk pada keadaan selanjutnya jika terjadi adopsi inovasi. Keadaan dapat berupa terus menerima atau tidak menggunakannya lagi.
Tahap Ke-2  (Proses) pada dasarnya terdiri dari 4 subtahapan: 
  • Pengetahuan: Tahap kesadaran individu akan adanya inovasi dan bagaimana inovasi itu berfungsi
  • Persuasi: Tahap dimana individu mulai dipengaruhi/terpengaruh untuk menolak atau menerima inovasi itu
  • Keputusan: Tahap dimana individu mulai memutuskan apakah akan menerima atau menolak inovasi itu
  • Konfirmasi: Tahap dimana individu mengkonfirmasi bahwa keputusannya untuk menerima/menolak inovasi itu adalah benar/keliru
Difusi inovasi melibatkan berbagai sumber komunikasi yang berbeda  (media massa, periklanan atau promosi, penyuluhan, atau kontak sosial informal) dan efektivitas sumber-sumber ini berbeda setiap saat, serta untuk fungsi yang juga berbeda.
  • Media massa berguna untuk menciptakan kesadaran dan pengetahuan,
  • Penyuluhan berguna untuk persuasi,
  • pengaruh antarpribadi berguna dalam pengambilan keputusan,  dalam menerima atau menolak inovasi, serta pengalaman dalam menggunakan inovasi dapat menjadi konfirmasi atas keputusan yang dibuat.  
Teori ini melihat adanya “variabel penerima” selain “variabel sistem sosial”. Kedua variabel ini berperanan penting dalam Tahap Ke-1 (Antaseden) dan akan bherperan/turut menentukan pada taha-tahap berikutnya.

Teori Adopsi Inovasi (McEwen, 1975)

Tiga Tahap Adopsi:
  • Tahap Akuisisi Informasi: Target komunikan memperoleh atau memahami inovasi.
  • Tahap Evaluasi Informasi: Target komunikan mulai mengevaluasi informasi tentang inovasi: menilai apakah inovasi itu bermanfaat atau tidak baginya
  • Tahap Adopsi (Penerimaan) atau Penolakan
Lima Tipe Adopter:
  • Inovator: Mereka yg pertama mengadopsi inovasi walau belum tentu pencetus inovasi itu sendiri
  • Adopter Awal: Disebut juga “pembawa pengaruh” melegitimasi gagasan dan membuatnya diterima masyarakat umumnya
  • Mayoritas Awal: Mengikuti “pembawa p[engaruh” dan melegitimasi lebih jauh inovasi itu.
  • Mayoritas Akhir: Mengadopsi inovasi belakangan setelah masyarakat umumnya menggunakan inovasi
  • Kelompok Tertinggal (Laggards): Kelompok yang paling akhir mengadopsi inovasi
  • Kelompok Kepala Batu (Diehards): Kelompok kecil yang tetap menolak inovasi itu

Rabu, 31 Oktober 2018

Dampak Revolusi Industri 4.0 Terhadap Nilai Nilai Pancasila

Dampak Revolusi Industri 4.0 Terhadap Nilai Nilai Pancasila


Teknologi informasi yang berkembang cepat, telah membawa dampak bagi kehidupan berbangsa. Tak hanya berdampak menguntungkan, kemajuan teknologi juga memberikan dampak yang buruk bagi masyarakat.

Hal ini menandakan bahwa paparan teknologi informasi berdampak secara langsung pada perubahan berbagai aspek kehidupan, termasuk terhadap karakter generasi muda.

Belakangan ini, persoalan karakter para pemuda menjadi perbincangan hangat dalam masyarakat. Berbagai sorotan mengenai permasalahn ini termuat dalam berbagai media. Ironisnya, karakter yang menjadi perbincangan merupakan karater-karakter yang tidak mencerminkan pemuda Indonesia yang santun, mandiri dan terpelajar.

Mudahnya akses informasi yang seharusnya dapat membantu kemajuan pendidikan, sepertinya justru menjadi bumerang bagi bangsa Indonesia. Serangan konten pornografi, perjudian, berita hoax, munculnya idola remaja yang tidak mendidik hingga peredaran narkotika melalui internet menjadi musuh besar bangsa ini.

Ditengah permasalahan-permasalahan ini tentunya pendidikan moral yang sudah dilukapan harus terus dibenahi lagi untuk seluruh tingkatan pendidikan dengan melibatkan  berbagai elemen bangsa terlebih sebagai pemangku kepentingan seperti pendidikan pancasila misalnya.

Dengan memahami dan memaknai kelima sila dalam pancasila. Diharapkan dapat mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas namun juga berkarakter. Generasi muda yang tidak hanya berkompeten tatapi juga perduli terhadap kemajuan Indonesia dari segala aspek.

Pendidikan pancasila sangatlah penting bagi para generasi muda Indonesia khususnya pada institusi pendidikan agar dapat terbentuk karakter yang unggul dan bereakhlak mulia.

Sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan dan santun dalam bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Karena karakter merupakan nilai–nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan, yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perhatian, dan perbuatan berdasarkan norma – norma agama, hukum, tatakrama, budaya dan adat istiadat.

Sehingga ketika generasi-generasi muda sekarang tidak akan melakukan tindakan kriminal seperti kasus korupsi dan lainnya ketika sudah berada di tengah masyarakat.

Di era sekarang, Pendidikan Pancasila sangat masih di perlukan untuk memupuk sikap berfikir pelajar/mahasiswa dikemudian hari.

Karena masa depan bangsa ini ada di tangan generasi-generasi muda yang kokoh, mandiri serta memiliki sikap ke-Indonesia-an yang luhur. Ditengah serangan-serangan budaya asing yang sedang menjadi trend generasi muda masa kini.

Selasa, 30 Oktober 2018

Mengenal Apa Itu "Kesulitan Belajar" pada Dewasa dan Anak-Anak

Mengenal Apa Itu "Kesulitan Belajar" pada Dewasa dan Anak-Anak

Kesulitan Belajar adalah hambatan secara umum yang mencakup ketidakmampuan belajar (Learning Disabilities), ketidakmampuan belajar khusus (Specific Learning Disabilities), dan kekacauan belajar (Learning Disorders).

Muncul istilah-istilah di atas karena adanya kebutuhan untuk mengidentifikasi atau mengenali orang-orang yang gagal berprestasi di sekolah tetapi penyebabnya bukan karena tuna netra, tuna wicara, tuna grahita maupun tuna daksa.

Pendekatan terhadap Kesulitan Belajar dari Berbagai Disiplin Ilmu.

Pendekatan Medis (Kedokteran)

Memperhatikan symptom organis. Misalnya kerusakan otak minimal brain disfunction, minimal cerebral disfunction, central nervous system disorders)

Pendekatan Psikologi.

Lebih menitikberatkan pada perkembangan sosial, emosional, potensi intelektual yang menimbulkan kesulitan belajar.

Pendekatan Pedagogi (pendidikan)

Cenderung memberi penekanan pada kekuatan dan kelemahan akademik.

Fisioterapist

Lebih menekankan pada pengelolaan fungsi otot-otot tubuh.

Speech Therapist

Menekankan pada kemampuan berbahasa dan berbicara.

Ahli-ahli lain memberi penekanan dan strategi yang berbeda untuk menangani masalah kesulitan belajar.

Asal Mula Kesulitan Belajar

Learning disabilities bermula dari konsep ‘anak yang mengalami kerusakan otak’ yang dikemukakan oleh Alfred A. Strauss, seorang neuropsikiater dan Heinz Werner, seorang ahli psikologi perkembangan, pada tahun 1942.

Penyebab kesulitan belajar diasosiasikan dengan gejala-gejala kerusakan otak yang penyebabnya bukan faktor keturunan.

Beberapa karakteristik kerusakan otak menurut Strauss

  • Gangguan persepsi atau ketidakmampuan membedakan figure & background, perhatian mudah beralih.
  • Gangguan berpikir dan pembentukan konsep.
  • Gangguan motorik (gerakan canggung, hiperkinetik atau terlalu banyak gerak, kesulitan mengontrol diri).
  • Perseverasi (sulit menghentikan perilaku tertentu, tindakan berlanjut / berulang terus).

Sindroma Strauss

Pada tahun 1957, Stevens & Birch mengemukakan tentang Sindroma Strauss yang ditandai dengan gejala-gejala antara lain:
  • Dalam menanggapi gangguan yang ringan, reaksinya sembarangan dan tidak seimbang dengan besarnya gangguan (over reaction)
  • Peningkatan kegiatan motorik tidak seimbang dengan kebutuhan
  • Pengaturan tindakan kacau atau tidak terorganisir
  • Lebih mudah beralih perhatian atau kurang konsentrasi
  • Kekeliruan persepsi yang terjadi berulang kali
  • Hiperaktivitas yang sulit diubah
  • Canggung dan tindakan motorik yang secara konsisten buruk

Beberapa Definisi Kesulitan belajar

Tahun 1967, asosiasi penyandang ketidakmampuan belajar di AS mengemukakan:

A child with learning disabilities is one with adequate mental ability, sensory processes, and emotional stability who has a limited number of specific deficits in perceptual, integrative or expressive processes which severely impair learning efficiency. This includes children who have central nervous system dysfunction which is expressed primarily in impaired learning efficiency (Telford & Sawrey : The exceptional individual).
Kesulitan belajar secara khas terkait dengan salah satu atau lebih dari beberapa kemampuan umum berikut:
  1. Bahasa lisan, yaitu dalam bentuk kesulitan mendengarkan, memahami dan kesulitan berbicara
  2. Bahasa tulisan, yaitu dalam bentuk kesulitan membaca, menulis dan mengeja
  3. Aritmatika, yaitu dalam bentuk kesulitan memahami konsep angka atau kesulitan mengerjakan persoalan matematika atau logika
  4. Penalaran, yaitu dalam bentuk kesulitan menata dan mengintegrasikan
  5. Memory, yaitu dalam bentuk kesulitan mengingat informasi
  6. Kesulitan menjalin relasi sosial atau bergaul
Meskipun berbeda-beda definisi, secara umum kesulitan belajar terkait dengan beberapa dari ciri-ciri berikut:
  1. Mengalami kesulitan belajar di sekolah
  2. Kinerja yang tidak merata pada berbagai tugas sekola
  3. Ada kaitannya dengan masalah faali
  4. Ada gangguan pada proses psikologis dasar
  5. Di luar cakupan kategori ketidakmampuan yang dikelompokkan ke ‘luar biasa’ (tuna netra, tuna wicara, tuna grahita, tuna daksa)
Menurut Vallet (Johnson & Morasky, 1980):
  1. Mempunyai sejarah kegagalan akademik berulang kali sehingga melemahkan usaha atau harapan untuk berhasil
  2. Hambatan fisik (tubuh) berupa cacat fisik tertentu
  3. Kelainan motivasional, yaitu kegagalan berulang, penolakan guru dan teman, tidak ada reinforcement (penguat)
  4. Kecemasan yang samar-samar akibat dari kegagalan berulang yang menimbulkan kegelisahan, ketidaknyamanan, menarik diri, melamun dan tidak konsetrasi
  5. Perilaku yang berubah-ubah dan tidak dapat diduga sehingga nilai raport tidak konstan yang disebabkan oleh turun naiknya minat dan perhatian terhadap pelajaran
  6. Penilaian yang keliru karena data tidak lengkap, sehingga menyebabkan pemberian ‘label’ yang tidak sesuai
  7. Pendidikan yang tidak memadai, yaitu adanya ketidakcocokan antara kebutuhan siswa dengan kegiatan-kegiatan di dalam kelas

Kesulitan belajar Pada Masa Pra-Sekolah

  1. Belum ada tuntutan akademik, sehingga ketidakmampuan belajar tidak dapat dideteksi melalui raport sekolah
  2. Perbedaan kesempatan perkembangan (sosial, emosi, kognisi, motorik, persepsi, dll) merupakan hal yang wajar, bukan kelainan
  3. Hasil tes untuk usia ini cenderung kurang akurat sebagai predictor performansi masa yang akan datang biasanya cukup dengan istilah kasus ‘rawan’ / ‘berisiko tinggi’
Perlakuan dipusatkan pada perkembangan aspek-aspek mendasar untuk perkembangan lebih lanjut:
  • Social (bergaul)
  • Emosi (perilaku afektif)
  • motorik (gerakan otot-otot)
  • Kognisi (pemecahan masalah, pemahaman knsep, dll)
  • Bahasa (artikulasi, kosa kata, tata bahasa, dsb)

Kesulitan belajar Pada Masa Sekolah Dasar

  1. Tuntutan akademik mulai berfungsi dalam bidang membaca, menulis, berhitung
  2. Ketidakmampuan belajar = kesulitan penguasaan ketrampilan akademik (kesulitan yang bersumber dari ketidakmampuan membaca, menulis, dan berhitung)
  3. Bila kesulitan tidak segera ditangani, akan berlanjut ke tingkat perkembangan berikutnya

Kesulitan Belajar Pada Masa Remaja

  1. Diharapkan menggunakan kemampuan dasar yang diperoleh di Sekolah Dasar untuk mempelajari isi materi yang baru
  2. Harus berjuang menguasai kemampuan dasar, isi materi pelajaran yang baru dan mengatasi tugas-tugas perkembangan masa remaja (tuntutan sosial, perubahan fisik, emosi, dan persiapan lain menghadapi masa dewasa)
  3. Intervensi dan pengajaran dipusatkan pada ketrampilan dasar, belajar kejuruan dan ketrampilan untuk mempertahankan kehidupan
  4. Tidak banyak tes diagnostic untuk masa ini (masa transisi)
Makna Kesulitan Belajar Pada Masa Dewasa
  1. Seseorang sudah dapat membebaskan diri dari tuntutan sekolah
  2. Meskipun tidak nyata, ketidakmampuan belajar yang masih dimiliki kadang-kadang terlihat pada saat-saat tertentu, seperti ketika harus mengisi formulir pendaftaran, kesulitan menghitung uang kembalian, bahasa yang tidak baik dan tidak benar, pengetahuan umum yang rendah.
  3. Kebanyakan orang dewasa dapat mengatasi kekurangannya, karena mereka bebas mencari tingkat sosial, tingkat kehidupan dan macam pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya
Mengenal dan Memahami Teori Konsep Diri untuk Bekal Menggali Potensi Diri

Mengenal dan Memahami Teori Konsep Diri untuk Bekal Menggali Potensi Diri

Pengenalan Diri mengarahkan individu  untuk lebih memahami ttg dirinya dlm hubungan dengan 3 realitas yaitu:
  1. Diri Sendiri
  2. Orang Lain dan
  3. ALLAH Sebagai Tuhan Sang Pencipta
Ke 3 pola hubungan tersebut harus terfokus pada tujuan utama yaitu:  Hubungan  dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Diri Sendiri

"Pengenalan diri akan menjadikan kita akan lebih mengenal diri, sehingga lebih mudah mengenal potensi diri kita."

Orang Lain

Hubungan dgn org lain,  memudahkan  diri kita utk memahami org lain, dan berempati dgn org lain.

Hubungan diri dgn Tuhan Yang Maha Esa

Menjadikan kita lebih terfokus dan melahirkan kepekaan individu yang tinggi.

Dengan mengenal lebih mendalam ttg diri kita. Kita  bisa mencapai suatu keyakinan bahwa sang pencipta yaitu ALLAH SWT  benar-benar  ada.  Hal ini terbukti, kita tdk bisa menghindar akan:
  1. Kelahiran diri kita
  2. Jodoh Kita
  3. Kematian Kita

Membangun Konsep Diri

Pertanyaan yg mendasar untuk dapat membantu membangun konsep diri adalah: “Siapa sesungguhnya diri kita ?” Lalu pertanyaan berikutnya sebagai pertanyaan penegas:
  1. Dari mana saya berasal ?
  2. Untuk apa saya ada di dunia ?
  3. Kemana saya akan kembali ? 
Pertanyaan penegas diatas akan mulai terkuak lebih jelas lagi dengan pertanyaan bantuan penjelas seperti ini:
  • Apakah saya ada dengan sendirinya ?, atau ada yang menciptakan ?
  • Dari apa saya diciptakan ?
  • Bagaimana saya diciptakan ?
  • Apa yang sesungguhnya terjadi saat proses saya diciptakan ?
  • Apa maksud penciptaan diri saya ?
  • Apa yang harus saya lakukan dalam kehidupan ini ?
  • Apa yang akan terjadi nantinya dalam kehidapan ini ?
  • Bagaimana saya hrs menjalani kehidupan ini ?
  • Apakah selamanya saya akan ada di dunia ini ? 
  • Apa yang akan terjadi setelah kematian ?
  • Bagaimana akhir keberadaan saya ?
  • Berapa lama saya akan bertahan dalam ingatan kehidupan?
Bagaimana kita  memahami dan menjawab berbagai pertanyaan diatas akan mengarah pada :
  1. Pemahaman yang tinggi tentang arti hidup diri kita
  2. Realitas hidup
  3. Sebagai dasar dalam membangun konsep diri dengan baik & benar
  4. Kejelasan & ketegasan konsep diri akan mengantarkan kita pada sikap mental positif dalam menjalani kehidupan selanjutnya
Membangun / Pembentukan Konsep diri dari berbagai faktor:
  1. Cultural Teaching
  2. Social comperation
  3. Studying Process 
Seorang pemimpin yang besar terbentuk bukan serta merta lahir begitu saja, tetapi dari faktor-faktor diatas.

Syarat Mengembangkan Konsep diri:
  1. Memiliki harapan yang realistis
  2. Memiliki persepsi yang positif
  3. Memiliki keinginan untuk berubah
  4. Bersikap serius dalam upaya perubahan

Membangun Kompetensi Diri

Dalam Menggali Potensi diri kita, beberapa hal yang harus dilihat sebagai berikut:
  1. Membangun Kompetensi inti (core competensi)
  2. Kekuatan Fokus
  3. Pengembangan kualitas diri
Membangun inti (core competensi)
  1. Indentifikasikan beragam potensi diri anda dengan baik
  2. Pilihlah salah satu potensi diri anda yang paling menonjol untuk dijadikan potensi utama/inti
  3. Fokus lah pada potensi utama untuk dikuatkan
  4. Kembangkan potensi utama itu dengan beragam pelatihan dan program pengembangan
  5. Bangun konsistensi dan semangat untk terus mengembangkan kompetensi diri anda
Memilih Fokus (Spesialisasi), Fokus pada 1 titik yang memberikan harapan cerah dan tingkat keberhasilannya tinggi berdasarkan kemampuan.
  1. Pilihlah satu dari sekian banyak titik potensi/ kemampuan anda
  2. Curahkan perhatian dan energi pada titik fokus itu
  3. Hilangkan dan kesampingkan titik-titik yang lain
  4. Bersungguh-sungguhlah untuk mewujudkannya
  5. Jadikanlah fokus Anda sebagai positioning bagi diri anda
Pengembangan Kualitas Diri

Konsep Diri Negatif

  • Peka pada kritik
  • Responsif sekali terhadap pujian
  • Hiperkritis
  • Cenderung merasa tidak disenangi orang lain
Bersikap pesimistis terhadap kompetisi

Konsep Diri Positif

  • Yakin akan kemampuan mengatasi masalah
  • Merasa setara dengan orang lain
  • Menerima pujian tanpa rasa malu
  • Sadar setiap keinginan dan perilaku tidak selalu disetujui masyarakat
  • Mampu memperbaiki diri
  • Self Disclosure
  • Self confidence
  • Selectivity: terpaan selektif, persepsi selektif dan ingatan selektif

Atraksi Interpersonal

Atraksi interpersonal adalah kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang. Makin tertarik kita dengan orang lain maka semakin besar kecenderungan kita untuk berkomunikasi dengan orang lain. Atraksi timbul oleh adanya faktor-faktor baik yang bersifat personal maupun situasional.

Pengaruh Atraksi Interpersonal pada Komunikasi Interpersona

Daya tarik seseorang sangat penting bagi komunikasi interpersonal. Jika kita menyukai seseorang maka kita cenderung melihat segala sesuatu dari diri orang tersebut dengan positif sebaliknya jika kita tidak menyukai seseorang maka kita akan melihat segala sesuatu dari orang tersebut secara negatif.

Situasi tersebut sangat penting bagi terciptanya komunikasi interpersonal yang efektif, sebab semakin positif sikap kita terhadap lawan bicara kita maka makin efektif pula kegiatan komunikasi yang kita lakukan dengan orang tersebut.

Faktor-faktor penyebab timbulnya atraksi

Faktor Personal:
  • Kesamaan karakteristik personal
  • Tekanan emosional (stres)
  • Harga diri yang rendah Isolasi sosial
Faktor-faktor situasional:
  • Daya tarik fisik (physical attractiveness)
  • Ganjaran (reward)
  • Familiarity Kedekatan (proximity) atau closeness
  • Kemampuan (competence)

Pengaruh Self concept dan self esteem dalam KAP dan hubungannya

  • Bagaimana hubungan seseorang dengan orang lain
  • Bagaimana nubuat kepada diri sendiri
  • Bagaimana mengintepretasikan sebuah pesan
  • Bagaimana gaya berkomunikasi kita
Hubungan keduanya sangat erat, karena dengan self concept akan menggambarkan siapa kita (diri sendiri). Dengan self esteem akan bisa mengevaluasi bagaimana kita (diri sendiri).